Sabtu, 15 Oktober 2011

Orang sukses tak pernah menyerah

Quote:

Spoiler for ohh tidakk bisa:
[imagetag]

Quote:

Spoiler for gambar:
[imagetag]

Quote:

Julianto Simanjuntak***

Ironis, Kendati Bob Pierce berhasil menjangkau dunia, tetapi ia tidak mampu mempertahankan ikatan kasih yang paling intim dengan keluarganya sendiri. Kehidupan publik dan pribadinya terpisahkan oleh jurang yang sangat lebar. Istrinya frustrasi dan anaknya mati bunuh diri.

Robert "Bob" Pierce (1914-1978) adalah pendiri World Vision, organisasi sosial besar di dunia dengan cabang di ratusan negara. LSM yang menjalankan kegiatan kemanusiaan, melayani kebutuhan jutaan orang secara jasmani. Karena kepedulian tersebut Bob patut mendapat gelar sahabat seluruh umat manusia. Untuk memelihara pelayanannya itu, Bob Pierce bisa keliling dunia sepuluh bulan dalam setahun. Wowww!

Dr. Bob, begitulah ia biasa dipanggil, lahir pada tahun 1914 sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara di Fort Dodge, Iowa. Lulus dari SMA, ia melanjutkan studinya di Pasadena Nazarene College. Di sinilah ia bertemu dengan calon istrinya, Lorraine Johnson.

Pernikahan Penuh Masalah

Pernikahan mereka berujung banyak masalah. Bob nikah dalam kondisi kerja dan ekonomi yang belum mapan. Bob terpaksa berpindah-pindah pekerjaan. Akibatnya Lorraine lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya di Chicago.

Selama berbulan-bulan, jalur komunikasi Bob dan istrinya hanyalah lewat surat yang tidak rutin dikirim. Isinya juga dangkal. Akibatnya Bob frustrasi, lalu berusaha menenangkan diri bergabung denan istri dengan cara bekerja dengan mertuanya.

Namun hal ini membuat Bob merasa tidak puas, sebab dia merasa harus terus bersaing dengan ayah mertuanya. Suatu hari karena tidak tahan dengan situasi dan setelah beradu argumen, ia mengundurkan diri dan pergi dari kota tersebut.

Suatu hari Lorraine kaget menerima sepucuk surat panggilan dari pengadilan, yang isinya memberitahukan bahwa Bob mengajukan gugatan cerai dengan Lorraine. Tepat pada hari pengumuman pengadilan, Lorraine meminta Bob untuk sejenak menemuinya secara pribadi, Lorraine meminta Bob untuk tidak melanjutkan proses perceraian itu, Bob menyetujuinya.

Belas kasihan pada si miskin

Bob kemudian mendapat jabatan baru yang membuat dia harus keliling dunia. Jadwal perjalanan yang menguras tenaga tidak mematahkan semangatnya. Ia menyadari bahwa bepergian kesana-kemari sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Ke mana pun ia pergi, ia menyaksikan tangisan-tangisan sesamanya yang meminta bantuannya.

Pada perjalanannya yang kedua, tujuannya adalah negara Cina, Bob ditantang secara langsung tentang apa perannya dalam meringankan penderitaan dan kesengsaraan orang-orang yang paling membutuhkan di dunia. Seluruh kekuatannya dicurahkan kepada kegiatan kemanusiaan. Bob bermaksud kembali ke Cina untuk melanjutkan pelayanan, namun perhatiannya teralih bersamaan dengan dikuasainya Cina oleh pihak komunis.

Tahun 1950, ia mengunjungi Korea untuk pertama kalinya, tempat di mana penderitaan anak-anak yang membutuhkan mengilhami terbentuknya World Vision International. Dengan adanya Perang Korea yang melanda negara tersebut, ketersediaan pangan, pakaian, dan obat-obatan menjadi prioritas utama bagi para wanita dan anak-anak telantar.

Keliling Dunia

Sejak awal berdirinya, World Vision telah menyebarkan pelayanannya ke sebanyak mungkin lokasi di mana ada orang-orang yang membutuhkan. Dalam beberapa tahun, organisasi tersebut merawat lebih dari dua ribu anak yatim piatu. Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah tersebut meningkat lebih dari seratus kali lipatnya. Tahun 1960-an saja sudah merawat lebih dari 65.000 anak-anak di dua puluh negara.

Hanya dalam beberapa tahun setelah memulai pelayanannya ke seluruh dunia, kisah tentang Bob Pierce menjadi legenda di seluruh Timur Jauh. Namun, pelayanannya tidak terbatas pada area itu saja. Selama hampir sepuluh tahun, ia dinyatakan sebagai salah satu dari sepuluh orang yang paling sering berkeliling dunia. Dia sangat terkenal dimana-mana. Tetapi sayang Anak-anaknya justru kurang mengenal ayahnya ini.

Selama masa perkembangan World Vision yang pesat itulah, Lorraine dan putri-putrinya semakin tersingkirkan dari posisi teratas dalam daftar prioritas Bob. Saat ia kembali kepada keluarganya setelah menempuh perjalanan selama rata-rata 10 bulan dalam setahun, Bob merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, konflik pun tak terhindarkan.

Meskipun ia dapat membina hubungan yang begitu baik dengan dunia, keluarganya sendiri yang tinggal serumah dengannya terasa begitu jauh. Ia memberikan Kasih yang berlimpah kepada anak-anak yatim piatu, tuna wisma serta para korban banjir, tetapi hanya secuil yang ia berikan kepada orang-orang yang paling membutuhkannya yakni istri dan putri-putrinya.

Ironis, Kendati Bob berhasil menjangkau dunia, tetapi ia tidak mampu mempertahankan ikatan kasih yang paling intim dengan keluarganya sendiri. Kehidupan publik dan pribadinya terpisahkan oleh jurang yang sangat lebar

Anak Depresi dan Bunuh Diri

Tak lama setelah mundur dari World Vision, kehidupan pribadi dan pekerjaan Bob perlahan-lahan mulai goncang. Suatu hari saat ikut tur dengan istrinya, mereka menerima telepon dari Sharon, putri sulungnya, yang memohon agar ayahnya pulang ke rumah.

Sebelumnya, Sharon telah bergumul hebat atas persoalan pribadinya dan Lorraine lebih tahu apa yang harus dilakukan, yaitu tidak meremehkan masalah ini. Namun, Bob telah merencanakan untuk mengadakan kunjungan mendadak ke Vietnam dan ia tidak mau diganggu.

Lorraine segera terbang kembali ke rumahnya dan mendapati putrinya Sharon dalam keadaan lemah dan putus asa, pergelangan tangannya diperban, dan sedang dalam pemulihan dari usaha bunuh diri yang sempat dilakukannya. Di tahun berikutnya, Sharon kembali mencoba bunuh diri, keluarga Pierce pun akhirnya menguburkan putri sulungnya itu pada usia 27 tahun.

Akhir Hidup Pierce

Pada tahun 1967 organisasi World Vision memaksa Bob keluar sebagai presiden World Vision karena kelelahannya secara emosinal. Lalu tahun 1970 Pierce menciptakan organisasi baru bernama "Samaritan's Purse", Organisasi yang lebih kecil dan yang dirancang untuk menyalurkan dana bantuan dan bahan makanan melalui badan-badan bantuan sosial yang ada. Franklin Graham, putra penginjil Billy Graham, anak didik menjadi Pierce melanjutkan kepemimpinan di lembaga itu saat Pierce meninggal karena leukemia pada tahun 1978.

Meski banyak kekurangan, Bob telah mencatat sejarah sebagai pendiri dan membesarkan organisasi yang menjadi berkat bagi dunia. Semangat pelayanan sosialnya sungguh luar biasa. Sosoknya meninggalkan banyak pelajaran, baik lewat kekuatan maupun kelemahannya, lewat keberhasilan maupun kegagalannya.

refleksi

Selalu ada kisah dalam sejarah yang menggugah. Sungguh tidak mudah menjaga keseimbangan hidup saat kita berada di puncak keberhasilan. Kisah ini mengingatkan agar Jangan sampai kita menjadi orang yang berhasil di kantor tapi gagal di rumah. Sukses memimpin puluhan hingga ratusan orang di perusahaan tapi gagal memimpin anak istri di rumah. Bisa jadi pejabat, tapi moral anak terlantar.

Menjadi Guru yang Hebat di sekolah, tapi tidak ada energi mendidik anak sendiri. Menjadi ulama yang disegani umat di rumah ibadah, tapi tidak dihormati keluarga sendiri. Keluarga merupakan berkat terbesar dari semua yang kita miliki, mari kita merawatnya. Kelak kita mempertanggung jawabkannya dihadapan Sang Pemberi.
Quote:

smoga bisa bermanfaat buat agan''
. mhon :sup2::sup2: gan
dan jangan lupa kasih ane:cendolbig :malu
tolong di bantu ya :rate5 nya
ane ga nerima :batabig cos dh banyak dirmah ane :batabig nya :ngakak
:ngakak :ngacir2

npub 15 Oct, 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar