Minggu, 02 Oktober 2011

Pria tidak subur rawan terserang penyakit jantung

img

Jakarta, Bagi laki-laki, susah punya anak erat kaitannya dengan komposisi hormon seksual. Tak hanya mempengaruhi produksi sperma, kekurangan hormon seks juga membuat laki-laki 17 persen lebih rentan mengalami kematian akibat sakit jantung.

Teori yang mendasari dugaan ini adalah bahwa produksi sperma yang bagus dipengaruhi oleh hormon testosteron. Hormon yang perannya sangat dominan pada sistem reproduksi laki-laki ini juga berfungsi melindungi sistem peredaran darah termasuk jantung dari berbagai kerusakan.

Jika produksi sperma terganggu karena kadar testosteronnya sedikit, maka besar kemungkinannya laki-laki tersebut juga akan bermasalah dengan jantung. Atas dasar inilah, para peneliti menduga laki-laki yang susah punya anak akan lebih rentan meninggal karena masalah jantung.

Michael Eisenberg, seorang profesor urologi dari Stanford University di California berhasil membuktikan teori terebut. Dalam sebuah penelitiannya, Prof Eisenberg mengamati 35.000 laki-laki dewasa yang usianya di atas 62 tahun dan sudah pensiun.

Para partisipan dikelompokkan dalam 2 kategori, yakni laki-laki yang menikah dan punya anak serta laki-laki menikah namun tidak punya anak karena spermanya tidak bagus. Para partisipan diamati kesehatannya dalam periode yang sama selama 10 tahun.

Hasil pengamatan menunjukkan, 10 persen dari seluruh partisipan meninggal selama kurun waktu tersebut. Dilihat dari riwayat reproduksinya, laki-laki yang tidak punya anak teramati 17 persen lebih rentan meninggal akibat masalah pada jantung dan pembuluh darah.

Prof Eisenberg memang tidak memastikan bahwa hormon merupakan satu-satunya faktor yang memicu kematian pada laki-laki mandul, namun ia yakin faktor tersebut cukup berpengaruh. Mungkin tidak secara langsung melindungi jantung, namun hormon itu membuat laki-laki lebih sehat secara keseluruhan.

"Mungkin juga punya anak membuat laki-laki memiliki gaya hidup yanbg cenderung lebih sehat, sehingga para ayah bisa hidup lebih lama dibandingkan rekan sebayanya yang susah punya anak," ungkap Prof Eisenberg seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (27/9/2011).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar