Minggu, 02 Oktober 2011

twetter dapat mendeteksi mood seseorang

Headline

New York – Rasa gembira yang muncul ketika bangun tidur, perlahan mulai surut seiring padatnya aktivitas. Tapi tidak ada yang menyangka, kondisi ini dapat dipantau hanya dari kegiatan twitter.

Sebuah studi dilakukan ilmuwan sosial dari Cornell University, mengenai sikap 2,4 juta pengguna situs blog mikro Twitter di 84 negara selama dua tahun terakhir. Hasilnya adalah, siklus emosi dipengaruhi oleh pekerjaan, tidur dan jumlah hari yang dilalui seseorang.

Dua puncak emosi sehari-hari yang dicatat oleh Twitter, terjadi saat pagi hari dan mendekati tengah malam. Menurut ilmuwan, hal ini mengindikasikan stress terkait pekerjaan berperan besar dalam membentuk mood.
“Tak banyak sosiolog yang melihat internet sebagai sumber data sains sosial. Tapi menurut saya, internet itu tempat sains sosial bermain,” ujar salah satu peneliti, Scott Golder.

Golder menyatakan, selama beberapa generasi para ilmuwan berusaha mencari tahu bagaimana keseluruhan sistem masyarakat bekerja atau seperti apa pola hubungan antara manusia.

“Dalam skala besar, hal itu sulit diketahui. Terbukti, amat sulit itu dicari tahu. Hingga internet tiba,” lanjut Golder mengenai hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 29 September lalu.
Dengan melacak Twitter menggunakan piranti lunak yang memonitor bahasa, Golder dan ilmuwan lain yang juga meneliti hal ini, Dosen Sosiologi Michael Macy, melakukan observasi mereka terhadap tweeps di seluruh dunia.

Banyak tweet positif pada akhir pekan dan dimulai tertunda dua jam dibandingkan hari biasa. Hal ini menandakan pengguna tidur lebih lama ketimbang hari biasa. Tweet positif itu memuncak sejak pagi hari di akhir pekan.

Apa yang dilakukan pengguna Twitter sama saja, meski definisi akhir pekan berbeda. Misalnya di Arab, dimana hari kerja berlangsung pada Minggu-Kamis, menjadikan Jumat dan Sabtu sebagai hari libur atau akhir pekan mereka.
Sebanyak 509 juta tweet digunakan untuk studi ini, ditandai sesuai waktu real time dan jenis positif atau negatif. Sehingga, bisa digunakan sebagai bahan studi yang lebih akurat ketimbang wawancara langsung yang tidak real time.

“Kami melihat ritme harian yang sama selama tujuh hari, menandakan sesuatu yang fundamental sedang berlangsung. Bahwa kita semua manusia yang mendapatkan beban psikologis sama,” kanjut Golder.
Dosen Psikologi University of California Sonja Lyubomirsky mengatakan, studi inovatif untuk memonitor mood orang ini sampai di pertanyaan yang takkan terjawab dengan menjadi follower jutaan orang.
Meski Twitter menyatakan terdapat 175 juta akun pengguna, lanjut Lyubomirsky, jumlah itu masih mewakili sebagian kecil dunia. Serta bukan sampel dari orang dewasa. “Tapi cukup deskriptif dan merupakan metodologi baru yang baik,” ujarnya.

Kedua pihak sepakat, meski internet telah menjadi mainstream besar, masih ada sekelompok besar masyarakat yang belum menggunakannya. Mereka hanya mengukur dari tweet sejumlah orang yang harus diakui, kadang terlalu bawel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar